HARIANPPU.ID, Samarinda – Wajah-wajah serius menatap layar ponsel. Bukan untuk membaca e-book atau mencatat pelajaran, tapi untuk scroll TikTok atau membalas notifikasi Instagram. Fenomena ini bukan lagi pemandangan asing di banyak sekolah di Kalimantan Timur.
Di tengah kekhawatiran atas dampak media sosial terhadap konsentrasi belajar dan karakter siswa, Sekretaris Komisi IV DPRD Kaltim, Darlis Pattalongi, menegaskan bahwa ini bukan lagi urusan sepele, dan bukan hanya tanggung jawab sekolah semata.
“Anak-anak kita sudah terlalu tenggelam di dunia maya. Kalau kita tidak ambil langkah, dampaknya akan jangka panjang. Pemerintah harus hadir, jangan berlepas tangan,” katanya.
Menurutnya, penyalahgunaan media sosial oleh pelajar kini masuk dalam kategori darurat. Bukan hanya menurunkan kualitas belajar, tetapi juga membuka peluang anak-anak terpapar konten negatif, hoaks, hingga perilaku menyimpang.
Namun, Darlis juga menyadari tantangan besar di lapangan. Saat sekolah mengandalkan internet untuk pembelajaran, sulit membatasi penggunaan ponsel di kalangan siswa.
“Kita tidak bisa larang HP begitu saja, karena pembelajaran juga lewat daring. Tapi di sinilah peran mitigasi dan edukasi dari semua pihak jadi sangat penting,” ujarnya.
Lebih lanjut, ia menyoroti lemahnya kontrol dari rumah. Banyak orang tua, katanya, terlalu pasif atau bahkan tidak paham apa yang diakses anak-anak mereka.
“Kontrol dari rumah harus diperkuat. Ini pekerjaan bersama, bukan hanya guru atau sekolah. Keluarga dan pemerintah juga wajib ikut andil,” tegasnya.
Darlis mendorong agar pemerintah segera menginisiasi program edukasi digital dan literasi media sosial, yang tak hanya menyasar pelajar, tetapi juga orang tua dan tenaga pendidik.
“Kita butuh kerja sama semua lini. Kalau tidak, kita akan kehilangan satu generasi yang tumbuh tanpa kontrol di dunia maya,” tutupnya. (H/Adv)





