HARIANPPU.ID, Samarinda – Hasanuddin Mas’ud, Ketua DPRD Kaltim, menyatakan bahwa lonjakan kasus kenakalan remaja di berbagai daerah merupakan cerminan dari kegagalan sistem pendidikan dalam membentuk karakter dan memberikan ruang aman bagi tumbuh kembang psikologis generasi muda.
“Remaja kita sedang menghadapi krisis eksistensial. Mereka kehilangan arah karena tidak tahu siapa mereka dan tidak merasa memiliki tempat dalam masyarakat. Sekolah harus hadir sebagai ruang yang menyembuhkan, bukan hanya tempat belajar akademik,” ujar Hasanuddin, yang akrab disapa Hamas, saat diwawancarai di Samarinda, Senin (23/6/2025).
Menurutnya, sistem pendidikan saat ini masih terlalu fokus pada pencapaian nilai dan kedisiplinan administratif. Di sisi lain, banyak siswa justru menyimpan masalah emosional dan psikologis yang tak pernah tersentuh oleh sistem.
“Kita terlalu sering mengedepankan sanksi. Padahal banyak dari mereka hanya ingin didengar. Jika pendekatannya tidak berubah, sekolah justru menjadi tempat yang menjauhkan anak dari proses pendidikan itu sendiri,” ujarnya.
Untuk itu, Hamas mendorong Dinas Pendidikan dan seluruh institusi sekolah untuk memperkuat fungsi layanan konseling, memperluas program pendidikan karakter, serta menciptakan komunitas belajar yang inklusif dan suportif.
Ia menilai bahwa pendekatan restoratif yang mengedepankan pemulihan hubungan dan empati lebih relevan ketimbang pendekatan lama yang menitikberatkan pada hukuman.
Tak hanya menyoroti sistem di dalam sekolah, Hamas juga menekankan pentingnya sinergi antara lembaga pendidikan dan keluarga. Ia mengungkapkan bahwa putusnya komunikasi antara remaja dan orang tua menjadi faktor signifikan yang memperparah situasi.
“Banyak anak kehilangan figur panutan. Kalau sekolah dan keluarga berjalan sendiri-sendiri, maka anak akan mencari jawaban sendiri di tempat yang keliru. Inilah kenapa pendidikan karakter harus diperluas menjadi pemberdayaan keluarga,” jelasnya.
Lebih lanjut, Hamas menyerukan evaluasi menyeluruh terhadap kurikulum pendidikan yang menurutnya belum adaptif terhadap perubahan sosial. Ia menekankan bahwa sekolah harus bertransformasi dari ‘pabrik nilai’ menjadi ‘rumah karakter’.
“Pendidikan itu bukan cuma alat untuk mencetak tenaga kerja, tapi wadah untuk membentuk manusia seutuhnya. Kita harus ubah cara pandang ini secara sistemik,” tegasnya.
Ia juga mengingatkan bahwa menciptakan ruang sekolah yang aman dan empatik adalah tanggung jawab bersama, mulai dari guru, kepala sekolah, orang tua, hingga pembuat kebijakan.
“Kalau kita ingin mencegah kekerasan dan kenakalan, kita harus mulai dari membangun kepercayaan dan ikatan sosial yang kuat di sekolah. Itu fondasinya,” pungkasnya. (H/Adv)





