DPRD Kaltim Desak Pemerintah Perhatikan Kesejahteraan Guru TPA

HARIANPPU.ID, Samarinda – Keberadaan guru Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPA) di Kalimantan Timur dinilai belum mendapatkan perhatian yang layak dari pemerintah daerah. Padahal, mereka memiliki peran strategis dalam membentuk karakter dan akhlak generasi muda.

Anggota Komisi I Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kalimantan Timur (Kaltim), La Ode Nasir, menyoroti rendahnya kesejahteraan para guru TPA yang selama ini bekerja dengan penuh dedikasi, namun nyaris tanpa dukungan finansial yang memadai.

“Para guru TPA ini bekerja dalam diam, namun dampak dari pengajaran mereka sangat besar terhadap masa depan anak-anak kita. Ini bukan pekerjaan kecil, melainkan pondasi bagi peradaban,” ungkapnya.

Ia menyebut, banyak guru TPA yang hanya mengandalkan sumbangan sukarela dari masyarakat karena tidak adanya honor tetap dari pemerintah. Hal ini, menurutnya, merupakan ironi mengingat pentingnya pendidikan agama dalam membangun karakter bangsa.

La Ode mendesak agar pemerintah daerah segera menjadikan kesejahteraan guru TPA sebagai prioritas dalam kebijakan publik. Ia menyarankan agar alokasi dana melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) maupun skema hibah pendidikan keagamaan bisa digunakan untuk mendukung keberlangsungan profesi guru TPA.

Baca Juga :  SDN 020 Sepaku Mengadopsi Rumah Panjang Adat Lamin Suku Dayak

“Apresiasi terhadap mereka tidak cukup dengan ucapan terima kasih. Sudah saatnya ada kebijakan konkret yang melindungi dan menyejahterakan para guru TPA,” tegasnya.

Ia menambahkan, jika guru-guru mata pelajaran umum di sekolah formal bisa memperoleh tunjangan dan insentif, maka guru TPA pun seharusnya mendapatkan perlakuan yang setara. Pasalnya, mereka juga turut berkontribusi dalam proses pendidikan yang bersifat fundamental.

Lebih lanjut, politisi dari fraksi PKS ini menekankan pentingnya kepastian masa depan bagi guru TPA. Ia mendorong pemerintah daerah untuk menyusun rencana strategis yang mencakup pendataan, pembinaan, serta pemberian insentif secara rutin.

“Kalau kita ingin membangun generasi yang religius dan berakhlak, maka investasinya harus dimulai dari para pendidik agama. Tanpa itu, pembangunan karakter akan timpang,” tutupnya. (H/Adv)

Related posts